PUTRI SERINDANG BULAN
Tersebutlah
dalam kisah, pada zaman dahulu sebelum ada nama Muara Ketahun, ada nama Sungai
Serut. Setelah ditinggali oleh Putri Serindang Bulan, selama setahun, maka
dinamailah wilayah itu Muara Setahun (sekarang Ketahun).
Konon
pada zaman dahulu ada seorang putri raja yang cantik jelita bernama Putri
Serindang Bulan. Oleh karena kecantikannya yang tiada taranya, maka banyak
orang yang jatuh hati kepadanya. Sudah banyak pemuda yang tertambat hatinya
ingin mempersunting Putri Serindang Bulan. Tetapi Putri Serindang Bulan sendiri
belum memikirkan untuk hidup berumah tangga. Walaupun pada saat itu, usia Putri
Serindang Bulan sudah cukup dewasa untuk hidup berkeluarga.
Sebagai
anak bungsu, Putri Serindang Bulan selalu menunjukkan rasa hormatnya kepada keenam
kakak kandungnya. Karena keenam kakak kandungnya belum juga menikah, maka Putri
Serindang Bulan tidak mau mendahului. Oleh sebab itulah Putri Serindang Bulan
belum bersedia menerima pinangan.
Tentu
saja sikap Putri Serindang Bulan itu mengecewakan banyak orang, termasuk pula
keenam kakaknya. Keenam kakak kandungnya merasa kecewa dan menanggung malu,
karena adiknya tidak mau segera menikah. Padahal keenam kakaknya berniat kawin
beleket, setelah Putri Serindang Bulan menikah dahulu. Oleh sebab itulah, pada
suatu hari dipanggilnya Putri Serindang Bulan oleh keenam kakaknya.
Di
sebuah Balai Panjang Istana, duduklah berkumpul tujuh kakak beradik mengadakan
rapat keluarga. Dalam rapat tersebut, keenam kakaknya mendesak agar Putri
Rindang Bulan segera menikah. Sebagai adik bungsu yang selalu hormat kepada
kakak-kakaknya, Putri Serindang Bulan pun tak kuasa menolaknya. Walaupun dalam
hati sebenarnya, Putri Serindang Bulan belumlah menemukan jodohnya.
Rupanya
sikap Putri Serindang Bulan yang sudah lunak itu segera tersiar keseluruh
penjuru wilayah kerajaan. Tentu saja banyak yang menyambutnya dengan sukacita.
Terlebih anak para raja yang sudah lama memendam rasa cintanya ingin
mempersunting Putri Serindang Bulan.
Tak
seberapa lama kemudian, datanglah utusan dari seorang Pangeran Muda yang tampan
menghadap Sang Baginda Raja Wawang. Kedatangannya tak lain bermaksud
mempersunting Putri Serindang Bulan yang terkenal eloknya. Raja Wawang dan
keenam kakak-kakaknya itupun segera menerima dengan penuh suka cita. Maka, segeralah
disusun rencana hari bimbangnya.
Ketika
dipertemukan kedua calon mempelai, tiba-tiba paras Putri Serindang Bulan yang
semula cantik berubah amat buruk. Wajah dan kulit Putri Serindang Bulan telah
terkena penyakit kusta yang menjijikkan. Dilihatnya wajah Putri Serindang Bulan
yang amat menjijikkan itu, maka bergegaslah Pangeran Muda itu meninggalkan
Balai bimbang. Utusan Pangeran Muda itupun segera membatalkan acara pernikahan,
dan pulang dengan hati kecewa.
Apa
hendak dikata, jikalau batang sudah berarang, itulah kenyataannya. Keluarga
Raja Wawang dan keenam kakaknya pun tak dapat menyalahkan pembatalan utusan
Pangeran Muda itu. kecuali hanya menanggung malu dan rasa sedih akan kejadian
yang sungguh diluar jangkauan akal manusia.
Akan
tetapi, tak lama kemudian setelah para utusan itu pulang, tiba-tiba penyakit
kusta Putri Serindang Bulan itu hilang seketika. Wajah dan kulit yang buruk dan
menjijikkan itu kini telah menjadi bersih dan cantik kembali. Raja Wawang dan
keenam kakaknya menyambutnya dengan gembira. Dan kabar telah sembuhnya Putri
Serindang Bulan dari penyalit kusta itu pun segera menyebar ke segala penjuru
kerajaan.
Pada
hari berikutnya, datanglah seorang pemuda gagah dan tampan bersama rombongannya
masuk ke istana. Pemuda dan rombongannya itu segera menyatakan maksudnya untuk
mempersunting Putri Serindang Bulan. Perundingan segera dilakukan, acara
bimbang pun telah diserapatkan.
Suatu
hari ketika kedua mempelai dipertemukan, kejadian aneh terulang kembali.
Tiba-tiba wajat dan kulit Putri Serindang Bulan berubah buruk dan menjijikkan.
Semua yang melihat sangat terkejut, terlebih calon mempelai laki-laki. Setelah
dilihatnya seluruh wajah dan kulit Putri Serindang Bulan berubah buruk dan
menjijikkan, maka berlarilah calon mempelai laki-laki itu meninggalkan Balai
Panjang Istana. Demikian juga dengan rombongannya. Maka batallah rencana
perkawinan Putri Serindang Bulan untuk kedua kalinya. Keluarga Raja Wawang
beserta keenam kakaknya pun menanggung rasa malu yang amat besar.
Peristiwa
itu sungguh luar biasa anehnya. Sebab begitu dibatalkan, tiba-tiba penyakit
kusta Putri Serindang Bulan hilang seketika. Wajah dan kulitnya yang amat buruk
dan menjijikkan itu telah kembali seperti semula. Bahkan wajah dan kulitnya pun
tak berbekas sedikitpun. Peristiwa itu sungguh mentakjubkan banyak orang.
Peristiwa
itu terus terjadi tanpa disadarinya. Jikalau dihitung, sudah ada sembilan orang
yang membatalkan pernikahannya dengan Putri Serindang Bulan. Raja Wawang dan
keenam kakaknya pun kian lama kian murka dibuatnya. Keenam kakaknya pun mulai
menaruh curiga buruk terhadap adik bungsunya, Putri Serindang Bulan.
Dibuang
Setahun
Akibat
pembatalan pernikahan yang terus menerus itu, hubungan antara Putri Serindang
Bulan dengan keenam kakaknya itu semakin jauh. Putri Serindang Bulan mulai
dimusuhi oleh kakak-kakaknya. Bahkan ada yang berniat untuk menyingkirkannya,
karena dianggap menjadi sumber petaka bagi keluarga kerajaan.
Pada
suatu hari berkumpullah keenam kakaknya di sebuah ruangan istana yang
dirahasiakan. Pertemuan keenam kakak-kakaknya itu membahas rencana
menyingkirkan adik bungsunya. Salah satu kakaknya mengusulkan agar adik
bungsunya di bawa ke hutan lalu dibunuhnya. Kemudian diusulkan pula, bahwa yang
membawa si bungsu itu sebaiknya Karang Nio. Sebab, Karang Nio adalah kakak si
bungsu yang kelima, yang dinilai lebih dekat dengan adik bungsunya.
Semula
Karang Nio keberatan dengan usulan kakak-kakaknya yang merencanakan akan
membunuh si bungsu. Tetapi karena yang lainnya menyetujui, maka Karang Nio tak
dapat berbuat banyak kecuali melaksanakannya. Kemudian dibuat kesepakatan
sebagai tanda bukti, bahwa Karang Nio harus membawa setabung darah si bungsu,
dan bukti penigasan (irisan) bagian telinganya.
Setelah
segala sesuatunya telah dipersiapkan, maka pergilah Karang Nio menemui adiknya
si bungsu Putri Serindang Bulan. Kemudian diajaknya Putri Serindang Bulan pergi
jalan-jalan. Putri Serindang Bulan mulanya tak menaruh curiga kepada kakaknya,
tetapi setelah perjalanannya semakin jauh masuk ke hutan, perasan Putri Serindang
Bulan semakin takut tak karuan.
Setibanya
di tengah hutan, Karang Nio segera mengajak Putri Serindang Bulan untuk
beristirahat sejenak. Disaat beristirahat itulah, Putri Serindang Bulan
bertanya kepada kakaknya. “Tiadalah pernah sekali-kali kakak membawaku sampai
sejauh ini. Adakah gerangan hingga kakak membawaku ketengah hutan yang amat
sunyi ini?” Mendengar pertanyaan yang amat menyentuh hati itu, tiadalah Karang
Nio mampu menjawab barang sepatah katapun. Bibirnya seperti terkunci rapat,
hingga tak keluar suara sedikitpun dari rongga mulutnya. Dalam lubuk hati yang
terdalam, Karang Nio sungguh tiada sanggup untuk membunuh adik bungsunya.
Setelah
dipikirkannya masak-masak, lalu berceritalah Karang Nio kepada adik bungsunya.
Dikatakannya terus terang, bahwa ia disuruh oleh kakak-kakaknya untuk membunuh
Putri Serindang Bulan. Kakak-kakaknya merasa menanggung malu akibat perbuatan
si bungsu. Untuk menghapus rasa malu, maka diputuskan untuk membunuh Putri
Serindang Bulan di tengah hutan. Dan kelak jikalau kakak kembali harus membawa
tanda buktinya, irisan sebagian dari telinganya.
Mendengar
pengakuan tulus dari kakaknya itu, Putri Serindang Bulan segera menyadari akan
nasibnya. Maka berkatalah Putri Serindang Bulan dengan bijaknya: “Jikalau
demikian adanya, lakukanlah segera kanda. Adik serahkan sepenuhnya nyawa ini
kepada kakanda.” Maka Karang Nio pun segera membalasnya, “Sungguh hati kecil
kakanda tiadalah tega untuk melakukannya. Sebab, kakanda amat kasih dan sayang
semata kepada adinda.”
Setelah
berpikir sejenak, Karang Nio lalu memotong seekor anjing. Darah anjing itu
kemudian ditempatkan pada sebuah tabung yang dibawanya. Maka berkatalah kepada
adiknya; “inilah bukti yang akan aku tunjukkan kepada mereka. Oleh karena harus
ada tanda bukti lain, maka izinkanlah kakanda melukai barang sedikit daun
telinga sebelah belakang adinda. Kelak jikalau kita dipertemukan kembali,
kakanda dapat menemukan tanda itu pada diri adinda. Sebaliknya, kakanda juga
akan melukai telunjuk jari kakanda sendiri, sebagai tanda pengingat pada
adinda.”
Kemudian
Karang Nio mengajak Putri Serindang Bulan pergi menuju ketepian sungai keramat
Ulau Deus. Karang Nio segera membuat rakit untuk melepas Putri Serindang Bulan.
Setelah rakit jadi, lalu dilepaslah Putri Serindang Bulan hingga terbawa arus
sungai.
Konon
ceritanya setiap daerah yang dilewati Putri Serindang Bulan itu menjadi sebuah
dusun. Maka jadilah sebuah dusun yang bernama Dusun Raja. Tak terasa setahun
sudah Putri Serindang Bulan menyisiri sungai dengan rakitnya. Setelah sampai di
sebuah muara, maka diberilah nama daerah dengan itu nama Muara Setahun (
sekarang menjadi Ketaun).
Setibanya
di muara Setahun, Putri Serindang Bulan segera menaikkan rakitnya ketepian
sungai. Selanjutnya Putri Serindang Bulan menaiki tebing dan membuat tempat
tinggal disana. Tempat tinggal Putri Serindang Bulan diatas tebing itu,
kemudian diberi nama Tepat Masat. Di tempat inilah Putri Serindang Bulan
tinggal dalam waktu yang cukup lama.
Bertemu
Raja Indrapura
Pada
suatu ketika, ada sebuah perahu yang melewati muara sungai Setahun. Pemilik
perahu itu adalah seorang raja dari Indrapura yang bernama Tuanku Raja Alam.
Ketika perahu melewati muara, Tuanku Alam Raja melihat cahaya kemilau yang
memancar di atas tebing. Oleh karena rasa penasarannya, maka segeralah Tuanku
Raja Alam mendekati dan menaiki tebing itu.
Sesampainya
di atas tebing, cahaya yang kemilau itu tiba-tiba hilang, dan yang ada hanyalah
sebuah bangunan rumah. Maka segeralah Tuanku Raja Alam mendekati bangunan rumah
itu, lalu mengetuk pintunya. Tak lama kemudian, muncullah Putri Serindang Bulan
dari dalam rumah itu. Tuanku Raja Alam sangat terkejut melihat Putri Serindang
Bulan yang memiliki paras nan elok dan jelita.
Keduanya
pun saling berkenalan. Kemudian Putri Serindang Bulan menceritakan asal mula
kejadiannya hingga terdampar di muara Sungai Ketahun. Mendengar penuturan kisah
Putri Serindang Bulan yang amat lembut itu, Tuanku Raja Alam menjadi terharu
dan kian terpikat olehnya. Tuanku Raja Alam juga menceritakan tentang
kegemarannya pergi berburu kehutan-hutan, hingga akhirnya bertemu dengan Putri
Serindang Bulan.
Setelah
keduanya saling bercerita, Tuanku Raja Alam kemudian mengutarakan niatnya untuk
membawa Putri Serindang Bulan ke istana Indrapura. Putri Serindang Bulan pun
menyambutnya dengan penuh sukacita. Maka segeralah mereka berangkat menuju
istana kerajaan Indrapura.
Calon
Permaisuri Raja
Tak
seberapa lama kemudian, tibalah rombongan Tuanku Raja Alam bersama Putri
Serindang Bulan di istana kerajaan Indrapura. Maka segeralah Tuanku Raja Alam
mengumpulkan para hulubalang, serta memanggil empat penghulu kerajaan untuk
mengadakan kerapatan.
Di
hadapan para pembesar dan empat penghulu kerajaan Indrapura, Putri Serindang
Bulan segera menceritakan kembali kisah sedih hidupnya hingga akhirnya bertemu
dengan Tuanku Raja Alam. Mendengar kisah hidup Putri Serindang Bulan itu, para
pembesar kerajaan beserta empat penghulu menjadi terharu karenanya.
Tuanku
Raja Alam kemudian menyatakan niatnya untuk mempersunting Putri Serindang
Bulan. Oleh karena takut akan terjadi peristiwa yang sama, maka empat penghulu
itu minta waktu tiga hari. Setelahj genap waktu tiga hari, maka menghadaplah
keempat penghulu itu. mereka menyetujui perkawinanTuanku Raja Alam dengan Putri
Serindang Bulan. Dan menjamin tidak akan terjadi apa-apa, karena Tuanku Raja
Alam sudah mempunyai enam orang istri. Tetapi untuk terlaksananya sarana adat
perkawinan itu, wali dari calon mempelai harus didatangkan. Itulah sa;ah satu
syarat yang harus dilaksanakan agar perkawinan itu sah adanya. Setelah mendapat
keterangan dari keempat penghulu itu, Tuanku Raja Alam pun dapat memakluminya.
Bimbang
Besar
Tak
seberapa lama lagi, kerajaan Indrapura akan menyelenggarakan acara pesta
pernikahan antara Tuanku Raja Alam dengan Putri Serindang Bulan secara
besar-besaran. Menurut adat tradisi yang berlaku di kerajaan Indrapura, pesta
pernikahan secara besar-besaran itu disebut bimbang besar atau bimbang gedang.
Sesuai
dengan syarat adat yang berlaku di negeri itu, calon wali mempelai wanita harus
dihadirkan sebagai wali saksi. Oleh sebab itulah, Putri Serindang Bulan segera
mengirim kabar kepada ayahanda dan keenam kakaknya.
Raja
Wawang dan keenam kakaknya sangat terkejut mendapat kabar bahwa si bungsu
Serindang Bulan masih hidup. Bahkan keluarga kerajaan merasa senang mendapat
kabar Putri Serindang Bulan akan dipersunting oleh Tuanku Raja Alam dari
kerajaan Indrapura. Ingin rasanya Raja Wawang menghadiri acara bimbang besar di
kerajaan Indrapura.
Akan
tetapi, apa hendak dikata. Maksud hati ingin memeluk gunung, apa daya tangan
tak sampai. Oleh karena usianya yang sudah lanjut, maka Raja Wawang tak dapat
menghadiri acara bimbang besar putrinya. Maka Raja Wawang segera mengutus
keenam anaknya (kakak-kakak Putri Serindang Bulan) untuk mewakili pernikahan si
bungsu.
Pada
hari yang telah disepakatkan, berangkatlah keenam kakak Putri Serindang Bulan
ke negeri Indrapura. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya
tibalah mereka di negeri Indrapura. Sesampainya di istana kerajaan Indrapura,
mereka segera menghadap Tuanku Raja Alam. Setelah memperkenalkan diri, mereka
lalu menyampaikan maksud kedatangannya. Mereka bermaksud meminta uang beleket,
yaitu uang tebusan sebagai pengganti si bungsu yang akan diambil oleh Tuanku
Raja Alam.
Mendengar
permintaan keenam kakak Putri Serindang Bulan itu, Tuanku Raja Alam akan
mengabulkan permintaan kakak beradik itu, dengan syarat mereka harus dapat
mengenali Putri Serindang Bulan.
Apabila mereka masih dapat mengenali Putri Serindang Bulan, Tuanku Raja Alam akan memenuhi permintaannya, dan akan diberi berbagai macam hadiah.
Apabila mereka masih dapat mengenali Putri Serindang Bulan, Tuanku Raja Alam akan memenuhi permintaannya, dan akan diberi berbagai macam hadiah.
Sebaliknya,
jikalau tak satu pun dari mereka yang bisa menebak, maka uang beleket itu tak
akan diberikan. Bahkan Tuanku Raja Alam mengancam akan menghukum mereka. Karena
sudah kepalang basah, maka mereka pun menyatakan kesediaannya.
Tak
seberapa lama. Tuanku Raja Alam segera memanggil tujuh wanita yang wajahnya
mirip dengan Putri Serindang Bulan untuk dihadapkan kepada mereka.
Keenam
kakak-beradik itupun segera mengamati satu persatu ketujuh wanita yang amat
jelita parasnya. Kakak yang pertama menyerah, karena tidak dapat mengenali lagi
wajah si bungsu Putri Serindang Bulan. Selanjutnya, disusul oleh kakak
keduanya. Kakak keduanya juga tidak mampu mengenali lagi wajah si bungsu
adiknya.
Kini
giliran kakak yang ketiga. Ternyata kakak yang ketiga pun tak mengenal lagi
mana adiknya yang sebenarnya. Demikian juga kakak keempat dan kelima. Keduanya
sama-sama tidak mampu menebaknya. Suasanapun menjadi amat menegangkan,
perjanjian sudah disepakati bersama. Jikalau tak satupun ada yang bisa menebak
siapa adiknya, maka tamatlah riwayat mereka, sebab mereka akan dibunuhnya.
Kini
mereka bergantung kepada Karang Nio. Ketika giliran jatuh pada Karang Nio,
yaitu kakaknya yang keenam, Karang Nio tiba-tiba teringat pada peristiwa masa
silam. Bahwa ia pernah memberikan sebuah tanda pada diri adiknya, yaitu dengan
melukai daun telinga adiknya dibagian belakang. Maka, segeralah Karang Nio
memeriksa satu-persatu daun telinga ketujuh wanita itu. ketika Karang Nio
memeriksa daun telinga salah satu dari ketujuh wanita itu, ternyata diketemukan
sebuah tanda. Setelah Karang Nio dapat menemukan tanda itu, maka Karang Nio
semakin yakin bahwa wanita itu tidak lain adalah si bungsu Putri Serindang
Bulan. Karang Nio pun segera menghadap Tuanku Raja Alam. Lalu berkata : “Tuanku
Raja Alam, inilah si bungsu hamba Putri Serindang Bulan. Sebab hambalah yang
memberikan tanda itu, sebelum hamba menghanyutkannya ke sungai.” Kemudian
Karang Nio kembali lagi mendekati Putri Serindang Bulan, seraya berkata: ”Oi
Dindaku sayang engkau seorang, kini jodoh sudah ada di depan. Tentunya, Dinda
pun telah mengenali kami.” Karang Nio pun segera memperlihatkan tanda pengenal,
yaitu luka yang ada pada telunjuk jarinya.
Kedua
kakak beradik itupun segera berangkul melepas rasa rindu. Melihat kedua kakak
beradik yang telah bertemu, maka suasana dalam istana karajaan Indrapura
seketika menjadi penuh haru. Tuanku Raja Alam pun dapat memakluminya. Maka,
legalah hati kakak beradik itu, karena tidak jadi dihukum oleh sang raja.
Tuanku Raja Alam pun tiada jadi menghukumnya. Sebaliknya, Tuanku Raja Alam
segera membayar uang jujur sebesar enam ruas bambu emas kepada masing-masing
kakak beradik Putri Serindang Bulan itu.
Pesta
perkawinan antara Tuanku Raja Alam dan Putri Serindang Bulan pun segera
diadakan. Bimbang besar telah digelar selama tujuh hari tujuh malam lamanya.
Seluruh rakyat negeri itu pun turut bersuka cita menyambut acara bimbang besar.
Segala perabot bimbang. Musik gong, kulintang, redap, dan gendang pun dibunyikan
bertalu-talu. Tua muda, bujang dan gadis pun turut mengisi berbagai macam
tarian.
Muara
Urai
Usai
pelaksanaan bimbang besar, keenam kakak beradik itu segera berpamitan kepada
Tuanku Raja Alam dan Putri Serindang Bulan. Mereka pulang dengan masing-masing
membawa setabung bambu berisi emas. Tetapi sayang tabung bambu berisi emas itu
jatuh di dasar laut, ketika biduk yang ditumpanginya pecah di tengah laut.
Kecuali tabung bambu emas milik Karang Nio. Kemudian mereka mendarat di
Serangai, dan terus berjalan menyisiri sebuah muara. Disanalah mereka saling
bertikai dan berebut tabung emas milik Karang Nio yang selamat. Ketika mereka
saling berebut, tabung emas milik adiknya itupun jatuh terurai. Tempat jatuhnya
emas yang terurai itu, kemudian dinamakan Muara Urai. Melihat emas telah jatuh
terurai, maka segeralah mereka berebut mendapatkannya. Akhirnya mereka pun
mendapat bagian emas dari adiknya.
Setelah
mendapatkan emas secukupnya, kemudian mereka saling berpisah. Adiknya yang
keenam, yaitu Karang Nio segera menuju ke sebuah tempat yang dianggapnya aman
dari segala gangguan. Akhirnya sampailah Karang Nio tiba di sebuah muara dan
menetap disana. Tempat menetap Karang Nio itu kemudian diberi nama Muara Aman.
Melahirkan
Anak Calon Raja
Sementara
itu kehidupan Putri Serindang Bulan, tampak selalu bahagia. Meskipun raja sudah
memiliki enam orang isteri, tetapi perhatian dan kasih sayangnya lebih banyak
dicurahkan kepada Putri Serindang Bulan. Karena Putri Serindang Bulan adalah
permaisurinya. Sedangkan yang lainnya hanyalah isteri selirnya.
Waktu
terus berlalu dengan cepatnya. Jalinan kasih sayang Tuanku Raja Alam dan Putri
Serindang Bulan kian menunjukkan buahnya. Tak seberapa lama, maka mengandunglah
Putri Serindang Bulan. Tuanku Raja Alam pun menerimanya dengan amat suka
citanya. Setelah menuju kesembilan bulan lewat sepuluh hari, Putri Serindang
Bulan pun akhirnya melahirkan seorang anak laki-laki. Anak laki-laki itu
kemudian diberi nama Raja Bendar Panglimo Koto.
Sebagai
ibu yang amat kasih dan sayang kepada anaknya, maka Putri Serindang Bulan tak
henti-hentinya membuai dan menimang-nimang si kecil Raja Bendar Panglimo Koto.
Walaupun sudah ada segenap inang dan dayang-dayang kerajaan yang siap mengasuh
dan melayani si kecil, tetapi Putri Serindang Bulan lebih senang merawat dan
mendidiknya sendiri. Oleh sebab itulah Putri Serindang Bulan tidak mau
menyerahkan anaknya kepada inang dan dayang-dayangnya.
Rupanya
Putri Serindang Bulan ingin sekali agar si kecil Raja Bendar Panglimo Koto
kelak hingga dewasa selalu menghormati dan menghargai kedua orang tuanya.
Dibawah asuhan kasih sayang ibundanya, Raja Bendar Panglimo Koto semakin tumbuh
dan berkembang menjadi seoarng anak remaja dengan kepribadian yang baik.
Menjadi
Raja di Ketahun
Setelah
beranjak dewasa, Tuanku Raja Alam berkehendak agar Raja Panglimo Koto dapat
menggantikan kedudukannya menjadi raja di Indrapura. Akan tetapi, sang anak
yang telah mendapatkan pendidikan dan ajaran ibunya, tidak ingin mengharap
warisan sang ayah. Raja Bendar Panglimo Koto, lebih senang jikalau dapat dengan
bebas menentukan nasib jalan hidupnya sendiri.
Atas
kebijaksanaan Putri Serindang Bulan, Raja Bendar Panglimo Koto kemudian
disuruhnya pergi ke daerah Ketahun untuk membuat dusun. “Duhai Anakanda pujaan
Bunda, jikalau Anakanda hendak merantau di negeri lain dan ingin menjadi raja
di sana, maka pergilah ke Ketahun. Kelak anakanda akan menjadi raja disana.
Sebab ibunda pernah tinggal berlama di sana”. Mendengar penuturan ibunya yang
penuh bijaksana itu, maka semakin terbukalah tekad Raja Bendar Panglimo Koto.
Pada
hari yang baik, maka berpamitlah Raja Bendar Panglimo Koto kepada kedua orang
tuanya. Tuanku Raja Alam pun tak kuasa menahan keinginan anaknya. Sebagai orang
tua yang amat sayang kepada anaknya, tentu saja Tuanku Raja Alam tidak ingin
anaknya mendapat kesulitan dijalan. Oleh sebab itulah, Tuanku Raja Alam
memerintahkan hulubalang dan anak buah secukupnya untuk turut menyertai
keberangkatan anaknya. Segala macam bekal keberangkatan juga telah dipersiapkan
oleh Putri Serindang Bulan.
Sebelum
berangkat, Putri Serindang Bulan berpesan kepada anaknya, agar kelak setelah
berhasil membuat dusun disana, segera memberikan kabar ke Indrapura. Putri
Serindang Bulan juga berjanji, jikalau kelak Raja Bendar Panglimo Koto telah
menjadi raja disana, maka ibunya akan segera datang berkunjung.
Setelah
segala macam bekal telah dipersiapkan, maka Raja Bendar Panglimo Koto segera
mohon do’a restu kedua orang tuanya untuk merantau ke negeri Ketahun. Dengan
disertai do’a restu oleh kedua orang tuanya, berangkatlah Raja Bendar Panglimo
Koto beserta anak buahnya menuju Muara Ketahun.
Perjalanan
yang amat panjang dan penuh rintangan, memerlukan semangat dan perjuangan yang
keras. Dengan semangat dan perjuangan yang keras itulah pada akhirnya rombongan
Raja Bendar Panglimo Koto sampai di Muara Ketahun. Sesampainya disana, kemudian
ia mendirikan sebuah dusun yang diberi nama Dusun Muara Dua ( sekarang
Kualalangi ). Dan dusun itu kemudian berkembang menjadi sebuah negeri yang amat
subur dan makmur. Disitulah Raja Bendar Panglimo Koto memerintah rakyatnya
dengan amat bijaksananya.
Sementara
itu, anak buahnya yang menyertai dari negeri Indrapura disuruh menempati dusun
disebelahnya, yaitu Dusun Raja. Dusun itulah yang dulu pernah disinggahi Putri
Serindang Bulan ketika hanyut terbawa oleh arus sungai yang amat deras.
Sesuai
dengan pesan ibundanya, maka Raja Bendar Panglimo Koto segera mengirim utusan
ke negeri Indrapura untuk mengabarkan tentang keberhasilannya membangun sebuah
dusun. Di damping itu, Raja Bendar Panglimo Koto juga membawakan bermacam
bingkisan untuk kedua orang tuanya.
Setelah
menempuh perjalanan yang amat jauh, sampailah utusan dari negeri Muara Dua itu
di negeri Indrapura. Maka segera menghadap Tuanku Raja Alam dan Putri Serindang
Bulan. Kemudian diceritakan kabar baik tentang Raja Bendar Panglimo Koto yang
kini telah menjadi raja di negeri Muara Dua. Mendengar kabar baik dari anaknya,
Tuanku Raja Alam dan Putri Serindang Bulan menjadi amat suka cita hatinya.
Dari
Indrapura Hingga Ketahun
Putri
Serindang Bulan pun teringat akan janjinya. Sebagai seroang ibu yang amat bijak
dan berpegang teguh pada janjinya, maka Putri Serindang Bulan ingin segera
datang ke negeri anaknya. Sebetulnya Tuanku Raja Alam berat hati jikalau
isterinya itu bepergian jauh. Akan tetapi, karena sudah berpegang janji, maka
sang raja tak dapat menahannya.
Pada
hari yang baik, maka berpamitlah Putri Serindang Bulan kepada sang raja. Atas
kebijaksanaan sang raja, Putri Serindang Bulan dikawal oleh segenap hulubalang
dan anak buah secukupnya. Segala bekal untuk perjalanan telah dipersiapkan.
Demikian juga dengan beberapa tabung bambu berisi emas sebagai hadiah dari raja
Indrapura. Maka segeralah rombongan Putri Serindang Bulan itu berangkat
meninggalkan negeri Indrapura menuju Muara Ketahun.
Konon
kisah selanjutnya, sampailah Putri Serindang Bulan di sebuah pantai. Terlihat
oleh Putri Serindang Bulan, ada sebuah pohon besar yang tumbuh dekat pantai itu
yang berbentuk seperti muka orang. Oleh karena pohon tersebut seperti muka
orang, Putri Serindang Bulan segera menyebut tempat itu dengan nama Muko-Muko.
Sebelum Putri Serindang Bulan melanjutkan perjalanannya, disuruhlah anak
buahnya untuk mencari sebuah sungai untuk membersihkan muka dan badannya.
Kemudian ditunjukkanlah sebuah sungai yang ternyata airnya amat sedikit.
Melihat air sungai yang amat sedikit itu, maka sungai itu di beri nama Sungai
Air Dikit.
Perjalanan
segera dilanjutkan. Setelah menempuh perjalanan yang amat berliku dan banyak
rintangan, sampailah rombongan Putri Serindang Bulan di wilayah Ketahun. Putri
Serindang Bulan amat terkejut ketika memasuki sebuah dusun. Ternyata
kedatangannya telah lama dinanti-nantikan oleh penduduk dusun itu. Oleh Putri
Serindang Bulan, dusun itu kemudian diberi nama Dusun Suka Menanti.
Setibanya di Muara Dua, Putri Serindang Bulan segera disambut dengan suka cita oleh Raja Bendar Panglimo Koto. Setelah dapat bertemu kembali, ibu dan anak itupun segera melepas kerinduannya. Konon ceritanya, Putri Serindang Bulan cukup lama tinggal di Muara Dua, karena ingin mengenang kembali kisahnya. Putri Serindang Bulan juga mengunjungi tempat-tempat yang pernah dilaluinya. Putri Serindang Bulan cukup lama tinggal di negeri anaknya, dan masih belum ingin kembali ke Indrapura. Tiba-tiba timbul perasaan rindu kepada kedua orang tuanya dan kakak-kakaknya. Oleh sebab itulah, maka segeralah Putri Serindang Bulan pergi mengunjungi kedua orang tuanya serta keenam kakaknya.
Setibanya di Muara Dua, Putri Serindang Bulan segera disambut dengan suka cita oleh Raja Bendar Panglimo Koto. Setelah dapat bertemu kembali, ibu dan anak itupun segera melepas kerinduannya. Konon ceritanya, Putri Serindang Bulan cukup lama tinggal di Muara Dua, karena ingin mengenang kembali kisahnya. Putri Serindang Bulan juga mengunjungi tempat-tempat yang pernah dilaluinya. Putri Serindang Bulan cukup lama tinggal di negeri anaknya, dan masih belum ingin kembali ke Indrapura. Tiba-tiba timbul perasaan rindu kepada kedua orang tuanya dan kakak-kakaknya. Oleh sebab itulah, maka segeralah Putri Serindang Bulan pergi mengunjungi kedua orang tuanya serta keenam kakaknya.
Terhadap
kakaknya yang keenam, yaitu Karang Nio, Putri Serindang Bulan banyak menyimpan
kenangan tersendiri. Oleh sebab itulah Putri Serindang Bulan tidak dapat
melupakan kebaikan hati kakak keenamnya.
Suatu
hari, Putri Serindang Bulan pernah mengirimkan berbagai macam hadiah kepada
anak-anaknya Karang Nio. Anak-anak Karang Nio pun menerimanya dengan suka cita.
Bahkan Putri Serindang Bulan sering datang berkunjung ke tempat tinggal Karang
Nio di Muara Aman.
Diceritakan kembali oleh :
Agus Setiyanto Z
Agus Setiyanto Z
Source:
http://www.permatabangsa.web.id/?p=732#more-732
PUTRI SERINDANG BULAN
Tersebutlah
dalam kisah, pada zaman dahulu sebelum ada nama Muara Ketahun, ada nama Sungai
Serut. Setelah ditinggali oleh Putri Serindang Bulan, selama setahun, maka
dinamailah wilayah itu Muara Setahun (sekarang Ketahun).
Konon
pada zaman dahulu ada seorang putri raja yang cantik jelita bernama Putri
Serindang Bulan. Oleh karena kecantikannya yang tiada taranya, maka banyak
orang yang jatuh hati kepadanya. Sudah banyak pemuda yang tertambat hatinya
ingin mempersunting Putri Serindang Bulan. Tetapi Putri Serindang Bulan sendiri
belum memikirkan untuk hidup berumah tangga. Walaupun pada saat itu, usia Putri
Serindang Bulan sudah cukup dewasa untuk hidup berkeluarga.
Sebagai
anak bungsu, Putri Serindang Bulan selalu menunjukkan rasa hormatnya kepada keenam
kakak kandungnya. Karena keenam kakak kandungnya belum juga menikah, maka Putri
Serindang Bulan tidak mau mendahului. Oleh sebab itulah Putri Serindang Bulan
belum bersedia menerima pinangan.
Tentu
saja sikap Putri Serindang Bulan itu mengecewakan banyak orang, termasuk pula
keenam kakaknya. Keenam kakak kandungnya merasa kecewa dan menanggung malu,
karena adiknya tidak mau segera menikah. Padahal keenam kakaknya berniat kawin
beleket, setelah Putri Serindang Bulan menikah dahulu. Oleh sebab itulah, pada
suatu hari dipanggilnya Putri Serindang Bulan oleh keenam kakaknya.
Di
sebuah Balai Panjang Istana, duduklah berkumpul tujuh kakak beradik mengadakan
rapat keluarga. Dalam rapat tersebut, keenam kakaknya mendesak agar Putri
Rindang Bulan segera menikah. Sebagai adik bungsu yang selalu hormat kepada
kakak-kakaknya, Putri Serindang Bulan pun tak kuasa menolaknya. Walaupun dalam
hati sebenarnya, Putri Serindang Bulan belumlah menemukan jodohnya.
Rupanya
sikap Putri Serindang Bulan yang sudah lunak itu segera tersiar keseluruh
penjuru wilayah kerajaan. Tentu saja banyak yang menyambutnya dengan sukacita.
Terlebih anak para raja yang sudah lama memendam rasa cintanya ingin
mempersunting Putri Serindang Bulan.
Tak
seberapa lama kemudian, datanglah utusan dari seorang Pangeran Muda yang tampan
menghadap Sang Baginda Raja Wawang. Kedatangannya tak lain bermaksud
mempersunting Putri Serindang Bulan yang terkenal eloknya. Raja Wawang dan
keenam kakak-kakaknya itupun segera menerima dengan penuh suka cita. Maka, segeralah
disusun rencana hari bimbangnya.
Ketika
dipertemukan kedua calon mempelai, tiba-tiba paras Putri Serindang Bulan yang
semula cantik berubah amat buruk. Wajah dan kulit Putri Serindang Bulan telah
terkena penyakit kusta yang menjijikkan. Dilihatnya wajah Putri Serindang Bulan
yang amat menjijikkan itu, maka bergegaslah Pangeran Muda itu meninggalkan
Balai bimbang. Utusan Pangeran Muda itupun segera membatalkan acara pernikahan,
dan pulang dengan hati kecewa.
Apa
hendak dikata, jikalau batang sudah berarang, itulah kenyataannya. Keluarga
Raja Wawang dan keenam kakaknya pun tak dapat menyalahkan pembatalan utusan
Pangeran Muda itu. kecuali hanya menanggung malu dan rasa sedih akan kejadian
yang sungguh diluar jangkauan akal manusia.
Akan
tetapi, tak lama kemudian setelah para utusan itu pulang, tiba-tiba penyakit
kusta Putri Serindang Bulan itu hilang seketika. Wajah dan kulit yang buruk dan
menjijikkan itu kini telah menjadi bersih dan cantik kembali. Raja Wawang dan
keenam kakaknya menyambutnya dengan gembira. Dan kabar telah sembuhnya Putri
Serindang Bulan dari penyalit kusta itu pun segera menyebar ke segala penjuru
kerajaan.
Pada
hari berikutnya, datanglah seorang pemuda gagah dan tampan bersama rombongannya
masuk ke istana. Pemuda dan rombongannya itu segera menyatakan maksudnya untuk
mempersunting Putri Serindang Bulan. Perundingan segera dilakukan, acara
bimbang pun telah diserapatkan.
Suatu
hari ketika kedua mempelai dipertemukan, kejadian aneh terulang kembali.
Tiba-tiba wajat dan kulit Putri Serindang Bulan berubah buruk dan menjijikkan.
Semua yang melihat sangat terkejut, terlebih calon mempelai laki-laki. Setelah
dilihatnya seluruh wajah dan kulit Putri Serindang Bulan berubah buruk dan
menjijikkan, maka berlarilah calon mempelai laki-laki itu meninggalkan Balai
Panjang Istana. Demikian juga dengan rombongannya. Maka batallah rencana
perkawinan Putri Serindang Bulan untuk kedua kalinya. Keluarga Raja Wawang
beserta keenam kakaknya pun menanggung rasa malu yang amat besar.
Peristiwa
itu sungguh luar biasa anehnya. Sebab begitu dibatalkan, tiba-tiba penyakit
kusta Putri Serindang Bulan hilang seketika. Wajah dan kulitnya yang amat buruk
dan menjijikkan itu telah kembali seperti semula. Bahkan wajah dan kulitnya pun
tak berbekas sedikitpun. Peristiwa itu sungguh mentakjubkan banyak orang.
Peristiwa
itu terus terjadi tanpa disadarinya. Jikalau dihitung, sudah ada sembilan orang
yang membatalkan pernikahannya dengan Putri Serindang Bulan. Raja Wawang dan
keenam kakaknya pun kian lama kian murka dibuatnya. Keenam kakaknya pun mulai
menaruh curiga buruk terhadap adik bungsunya, Putri Serindang Bulan.
Dibuang
Setahun
Akibat
pembatalan pernikahan yang terus menerus itu, hubungan antara Putri Serindang
Bulan dengan keenam kakaknya itu semakin jauh. Putri Serindang Bulan mulai
dimusuhi oleh kakak-kakaknya. Bahkan ada yang berniat untuk menyingkirkannya,
karena dianggap menjadi sumber petaka bagi keluarga kerajaan.
Pada
suatu hari berkumpullah keenam kakaknya di sebuah ruangan istana yang
dirahasiakan. Pertemuan keenam kakak-kakaknya itu membahas rencana
menyingkirkan adik bungsunya. Salah satu kakaknya mengusulkan agar adik
bungsunya di bawa ke hutan lalu dibunuhnya. Kemudian diusulkan pula, bahwa yang
membawa si bungsu itu sebaiknya Karang Nio. Sebab, Karang Nio adalah kakak si
bungsu yang kelima, yang dinilai lebih dekat dengan adik bungsunya.
Semula
Karang Nio keberatan dengan usulan kakak-kakaknya yang merencanakan akan
membunuh si bungsu. Tetapi karena yang lainnya menyetujui, maka Karang Nio tak
dapat berbuat banyak kecuali melaksanakannya. Kemudian dibuat kesepakatan
sebagai tanda bukti, bahwa Karang Nio harus membawa setabung darah si bungsu,
dan bukti penigasan (irisan) bagian telinganya.
Setelah
segala sesuatunya telah dipersiapkan, maka pergilah Karang Nio menemui adiknya
si bungsu Putri Serindang Bulan. Kemudian diajaknya Putri Serindang Bulan pergi
jalan-jalan. Putri Serindang Bulan mulanya tak menaruh curiga kepada kakaknya,
tetapi setelah perjalanannya semakin jauh masuk ke hutan, perasan Putri Serindang
Bulan semakin takut tak karuan.
Setibanya
di tengah hutan, Karang Nio segera mengajak Putri Serindang Bulan untuk
beristirahat sejenak. Disaat beristirahat itulah, Putri Serindang Bulan
bertanya kepada kakaknya. “Tiadalah pernah sekali-kali kakak membawaku sampai
sejauh ini. Adakah gerangan hingga kakak membawaku ketengah hutan yang amat
sunyi ini?” Mendengar pertanyaan yang amat menyentuh hati itu, tiadalah Karang
Nio mampu menjawab barang sepatah katapun. Bibirnya seperti terkunci rapat,
hingga tak keluar suara sedikitpun dari rongga mulutnya. Dalam lubuk hati yang
terdalam, Karang Nio sungguh tiada sanggup untuk membunuh adik bungsunya.
Setelah
dipikirkannya masak-masak, lalu berceritalah Karang Nio kepada adik bungsunya.
Dikatakannya terus terang, bahwa ia disuruh oleh kakak-kakaknya untuk membunuh
Putri Serindang Bulan. Kakak-kakaknya merasa menanggung malu akibat perbuatan
si bungsu. Untuk menghapus rasa malu, maka diputuskan untuk membunuh Putri
Serindang Bulan di tengah hutan. Dan kelak jikalau kakak kembali harus membawa
tanda buktinya, irisan sebagian dari telinganya.
Mendengar
pengakuan tulus dari kakaknya itu, Putri Serindang Bulan segera menyadari akan
nasibnya. Maka berkatalah Putri Serindang Bulan dengan bijaknya: “Jikalau
demikian adanya, lakukanlah segera kanda. Adik serahkan sepenuhnya nyawa ini
kepada kakanda.” Maka Karang Nio pun segera membalasnya, “Sungguh hati kecil
kakanda tiadalah tega untuk melakukannya. Sebab, kakanda amat kasih dan sayang
semata kepada adinda.”
Setelah
berpikir sejenak, Karang Nio lalu memotong seekor anjing. Darah anjing itu
kemudian ditempatkan pada sebuah tabung yang dibawanya. Maka berkatalah kepada
adiknya; “inilah bukti yang akan aku tunjukkan kepada mereka. Oleh karena harus
ada tanda bukti lain, maka izinkanlah kakanda melukai barang sedikit daun
telinga sebelah belakang adinda. Kelak jikalau kita dipertemukan kembali,
kakanda dapat menemukan tanda itu pada diri adinda. Sebaliknya, kakanda juga
akan melukai telunjuk jari kakanda sendiri, sebagai tanda pengingat pada
adinda.”
Kemudian
Karang Nio mengajak Putri Serindang Bulan pergi menuju ketepian sungai keramat
Ulau Deus. Karang Nio segera membuat rakit untuk melepas Putri Serindang Bulan.
Setelah rakit jadi, lalu dilepaslah Putri Serindang Bulan hingga terbawa arus
sungai.
Konon
ceritanya setiap daerah yang dilewati Putri Serindang Bulan itu menjadi sebuah
dusun. Maka jadilah sebuah dusun yang bernama Dusun Raja. Tak terasa setahun
sudah Putri Serindang Bulan menyisiri sungai dengan rakitnya. Setelah sampai di
sebuah muara, maka diberilah nama daerah dengan itu nama Muara Setahun (
sekarang menjadi Ketaun).
Setibanya
di muara Setahun, Putri Serindang Bulan segera menaikkan rakitnya ketepian
sungai. Selanjutnya Putri Serindang Bulan menaiki tebing dan membuat tempat
tinggal disana. Tempat tinggal Putri Serindang Bulan diatas tebing itu,
kemudian diberi nama Tepat Masat. Di tempat inilah Putri Serindang Bulan
tinggal dalam waktu yang cukup lama.
Bertemu
Raja Indrapura
Pada
suatu ketika, ada sebuah perahu yang melewati muara sungai Setahun. Pemilik
perahu itu adalah seorang raja dari Indrapura yang bernama Tuanku Raja Alam.
Ketika perahu melewati muara, Tuanku Alam Raja melihat cahaya kemilau yang
memancar di atas tebing. Oleh karena rasa penasarannya, maka segeralah Tuanku
Raja Alam mendekati dan menaiki tebing itu.
Sesampainya
di atas tebing, cahaya yang kemilau itu tiba-tiba hilang, dan yang ada hanyalah
sebuah bangunan rumah. Maka segeralah Tuanku Raja Alam mendekati bangunan rumah
itu, lalu mengetuk pintunya. Tak lama kemudian, muncullah Putri Serindang Bulan
dari dalam rumah itu. Tuanku Raja Alam sangat terkejut melihat Putri Serindang
Bulan yang memiliki paras nan elok dan jelita.
Keduanya
pun saling berkenalan. Kemudian Putri Serindang Bulan menceritakan asal mula
kejadiannya hingga terdampar di muara Sungai Ketahun. Mendengar penuturan kisah
Putri Serindang Bulan yang amat lembut itu, Tuanku Raja Alam menjadi terharu
dan kian terpikat olehnya. Tuanku Raja Alam juga menceritakan tentang
kegemarannya pergi berburu kehutan-hutan, hingga akhirnya bertemu dengan Putri
Serindang Bulan.
Setelah
keduanya saling bercerita, Tuanku Raja Alam kemudian mengutarakan niatnya untuk
membawa Putri Serindang Bulan ke istana Indrapura. Putri Serindang Bulan pun
menyambutnya dengan penuh sukacita. Maka segeralah mereka berangkat menuju
istana kerajaan Indrapura.
Calon
Permaisuri Raja
Tak
seberapa lama kemudian, tibalah rombongan Tuanku Raja Alam bersama Putri
Serindang Bulan di istana kerajaan Indrapura. Maka segeralah Tuanku Raja Alam
mengumpulkan para hulubalang, serta memanggil empat penghulu kerajaan untuk
mengadakan kerapatan.
Di
hadapan para pembesar dan empat penghulu kerajaan Indrapura, Putri Serindang
Bulan segera menceritakan kembali kisah sedih hidupnya hingga akhirnya bertemu
dengan Tuanku Raja Alam. Mendengar kisah hidup Putri Serindang Bulan itu, para
pembesar kerajaan beserta empat penghulu menjadi terharu karenanya.
Tuanku
Raja Alam kemudian menyatakan niatnya untuk mempersunting Putri Serindang
Bulan. Oleh karena takut akan terjadi peristiwa yang sama, maka empat penghulu
itu minta waktu tiga hari. Setelahj genap waktu tiga hari, maka menghadaplah
keempat penghulu itu. mereka menyetujui perkawinanTuanku Raja Alam dengan Putri
Serindang Bulan. Dan menjamin tidak akan terjadi apa-apa, karena Tuanku Raja
Alam sudah mempunyai enam orang istri. Tetapi untuk terlaksananya sarana adat
perkawinan itu, wali dari calon mempelai harus didatangkan. Itulah sa;ah satu
syarat yang harus dilaksanakan agar perkawinan itu sah adanya. Setelah mendapat
keterangan dari keempat penghulu itu, Tuanku Raja Alam pun dapat memakluminya.
Bimbang
Besar
Tak
seberapa lama lagi, kerajaan Indrapura akan menyelenggarakan acara pesta
pernikahan antara Tuanku Raja Alam dengan Putri Serindang Bulan secara
besar-besaran. Menurut adat tradisi yang berlaku di kerajaan Indrapura, pesta
pernikahan secara besar-besaran itu disebut bimbang besar atau bimbang gedang.
Sesuai
dengan syarat adat yang berlaku di negeri itu, calon wali mempelai wanita harus
dihadirkan sebagai wali saksi. Oleh sebab itulah, Putri Serindang Bulan segera
mengirim kabar kepada ayahanda dan keenam kakaknya.
Raja
Wawang dan keenam kakaknya sangat terkejut mendapat kabar bahwa si bungsu
Serindang Bulan masih hidup. Bahkan keluarga kerajaan merasa senang mendapat
kabar Putri Serindang Bulan akan dipersunting oleh Tuanku Raja Alam dari
kerajaan Indrapura. Ingin rasanya Raja Wawang menghadiri acara bimbang besar di
kerajaan Indrapura.
Akan
tetapi, apa hendak dikata. Maksud hati ingin memeluk gunung, apa daya tangan
tak sampai. Oleh karena usianya yang sudah lanjut, maka Raja Wawang tak dapat
menghadiri acara bimbang besar putrinya. Maka Raja Wawang segera mengutus
keenam anaknya (kakak-kakak Putri Serindang Bulan) untuk mewakili pernikahan si
bungsu.
Pada
hari yang telah disepakatkan, berangkatlah keenam kakak Putri Serindang Bulan
ke negeri Indrapura. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya
tibalah mereka di negeri Indrapura. Sesampainya di istana kerajaan Indrapura,
mereka segera menghadap Tuanku Raja Alam. Setelah memperkenalkan diri, mereka
lalu menyampaikan maksud kedatangannya. Mereka bermaksud meminta uang beleket,
yaitu uang tebusan sebagai pengganti si bungsu yang akan diambil oleh Tuanku
Raja Alam.
Mendengar
permintaan keenam kakak Putri Serindang Bulan itu, Tuanku Raja Alam akan
mengabulkan permintaan kakak beradik itu, dengan syarat mereka harus dapat
mengenali Putri Serindang Bulan.
Apabila mereka masih dapat mengenali Putri Serindang Bulan, Tuanku Raja Alam akan memenuhi permintaannya, dan akan diberi berbagai macam hadiah.
Apabila mereka masih dapat mengenali Putri Serindang Bulan, Tuanku Raja Alam akan memenuhi permintaannya, dan akan diberi berbagai macam hadiah.
Sebaliknya,
jikalau tak satu pun dari mereka yang bisa menebak, maka uang beleket itu tak
akan diberikan. Bahkan Tuanku Raja Alam mengancam akan menghukum mereka. Karena
sudah kepalang basah, maka mereka pun menyatakan kesediaannya.
Tak
seberapa lama. Tuanku Raja Alam segera memanggil tujuh wanita yang wajahnya
mirip dengan Putri Serindang Bulan untuk dihadapkan kepada mereka.
Keenam
kakak-beradik itupun segera mengamati satu persatu ketujuh wanita yang amat
jelita parasnya. Kakak yang pertama menyerah, karena tidak dapat mengenali lagi
wajah si bungsu Putri Serindang Bulan. Selanjutnya, disusul oleh kakak
keduanya. Kakak keduanya juga tidak mampu mengenali lagi wajah si bungsu
adiknya.
Kini
giliran kakak yang ketiga. Ternyata kakak yang ketiga pun tak mengenal lagi
mana adiknya yang sebenarnya. Demikian juga kakak keempat dan kelima. Keduanya
sama-sama tidak mampu menebaknya. Suasanapun menjadi amat menegangkan,
perjanjian sudah disepakati bersama. Jikalau tak satupun ada yang bisa menebak
siapa adiknya, maka tamatlah riwayat mereka, sebab mereka akan dibunuhnya.
Kini
mereka bergantung kepada Karang Nio. Ketika giliran jatuh pada Karang Nio,
yaitu kakaknya yang keenam, Karang Nio tiba-tiba teringat pada peristiwa masa
silam. Bahwa ia pernah memberikan sebuah tanda pada diri adiknya, yaitu dengan
melukai daun telinga adiknya dibagian belakang. Maka, segeralah Karang Nio
memeriksa satu-persatu daun telinga ketujuh wanita itu. ketika Karang Nio
memeriksa daun telinga salah satu dari ketujuh wanita itu, ternyata diketemukan
sebuah tanda. Setelah Karang Nio dapat menemukan tanda itu, maka Karang Nio
semakin yakin bahwa wanita itu tidak lain adalah si bungsu Putri Serindang
Bulan. Karang Nio pun segera menghadap Tuanku Raja Alam. Lalu berkata : “Tuanku
Raja Alam, inilah si bungsu hamba Putri Serindang Bulan. Sebab hambalah yang
memberikan tanda itu, sebelum hamba menghanyutkannya ke sungai.” Kemudian
Karang Nio kembali lagi mendekati Putri Serindang Bulan, seraya berkata: ”Oi
Dindaku sayang engkau seorang, kini jodoh sudah ada di depan. Tentunya, Dinda
pun telah mengenali kami.” Karang Nio pun segera memperlihatkan tanda pengenal,
yaitu luka yang ada pada telunjuk jarinya.
Kedua
kakak beradik itupun segera berangkul melepas rasa rindu. Melihat kedua kakak
beradik yang telah bertemu, maka suasana dalam istana karajaan Indrapura
seketika menjadi penuh haru. Tuanku Raja Alam pun dapat memakluminya. Maka,
legalah hati kakak beradik itu, karena tidak jadi dihukum oleh sang raja.
Tuanku Raja Alam pun tiada jadi menghukumnya. Sebaliknya, Tuanku Raja Alam
segera membayar uang jujur sebesar enam ruas bambu emas kepada masing-masing
kakak beradik Putri Serindang Bulan itu.
Pesta
perkawinan antara Tuanku Raja Alam dan Putri Serindang Bulan pun segera
diadakan. Bimbang besar telah digelar selama tujuh hari tujuh malam lamanya.
Seluruh rakyat negeri itu pun turut bersuka cita menyambut acara bimbang besar.
Segala perabot bimbang. Musik gong, kulintang, redap, dan gendang pun dibunyikan
bertalu-talu. Tua muda, bujang dan gadis pun turut mengisi berbagai macam
tarian.
Muara
Urai
Usai
pelaksanaan bimbang besar, keenam kakak beradik itu segera berpamitan kepada
Tuanku Raja Alam dan Putri Serindang Bulan. Mereka pulang dengan masing-masing
membawa setabung bambu berisi emas. Tetapi sayang tabung bambu berisi emas itu
jatuh di dasar laut, ketika biduk yang ditumpanginya pecah di tengah laut.
Kecuali tabung bambu emas milik Karang Nio. Kemudian mereka mendarat di
Serangai, dan terus berjalan menyisiri sebuah muara. Disanalah mereka saling
bertikai dan berebut tabung emas milik Karang Nio yang selamat. Ketika mereka
saling berebut, tabung emas milik adiknya itupun jatuh terurai. Tempat jatuhnya
emas yang terurai itu, kemudian dinamakan Muara Urai. Melihat emas telah jatuh
terurai, maka segeralah mereka berebut mendapatkannya. Akhirnya mereka pun
mendapat bagian emas dari adiknya.
Setelah
mendapatkan emas secukupnya, kemudian mereka saling berpisah. Adiknya yang
keenam, yaitu Karang Nio segera menuju ke sebuah tempat yang dianggapnya aman
dari segala gangguan. Akhirnya sampailah Karang Nio tiba di sebuah muara dan
menetap disana. Tempat menetap Karang Nio itu kemudian diberi nama Muara Aman.
Melahirkan
Anak Calon Raja
Sementara
itu kehidupan Putri Serindang Bulan, tampak selalu bahagia. Meskipun raja sudah
memiliki enam orang isteri, tetapi perhatian dan kasih sayangnya lebih banyak
dicurahkan kepada Putri Serindang Bulan. Karena Putri Serindang Bulan adalah
permaisurinya. Sedangkan yang lainnya hanyalah isteri selirnya.
Waktu
terus berlalu dengan cepatnya. Jalinan kasih sayang Tuanku Raja Alam dan Putri
Serindang Bulan kian menunjukkan buahnya. Tak seberapa lama, maka mengandunglah
Putri Serindang Bulan. Tuanku Raja Alam pun menerimanya dengan amat suka
citanya. Setelah menuju kesembilan bulan lewat sepuluh hari, Putri Serindang
Bulan pun akhirnya melahirkan seorang anak laki-laki. Anak laki-laki itu
kemudian diberi nama Raja Bendar Panglimo Koto.
Sebagai
ibu yang amat kasih dan sayang kepada anaknya, maka Putri Serindang Bulan tak
henti-hentinya membuai dan menimang-nimang si kecil Raja Bendar Panglimo Koto.
Walaupun sudah ada segenap inang dan dayang-dayang kerajaan yang siap mengasuh
dan melayani si kecil, tetapi Putri Serindang Bulan lebih senang merawat dan
mendidiknya sendiri. Oleh sebab itulah Putri Serindang Bulan tidak mau
menyerahkan anaknya kepada inang dan dayang-dayangnya.
Rupanya
Putri Serindang Bulan ingin sekali agar si kecil Raja Bendar Panglimo Koto
kelak hingga dewasa selalu menghormati dan menghargai kedua orang tuanya.
Dibawah asuhan kasih sayang ibundanya, Raja Bendar Panglimo Koto semakin tumbuh
dan berkembang menjadi seoarng anak remaja dengan kepribadian yang baik.
Menjadi
Raja di Ketahun
Setelah
beranjak dewasa, Tuanku Raja Alam berkehendak agar Raja Panglimo Koto dapat
menggantikan kedudukannya menjadi raja di Indrapura. Akan tetapi, sang anak
yang telah mendapatkan pendidikan dan ajaran ibunya, tidak ingin mengharap
warisan sang ayah. Raja Bendar Panglimo Koto, lebih senang jikalau dapat dengan
bebas menentukan nasib jalan hidupnya sendiri.
Atas
kebijaksanaan Putri Serindang Bulan, Raja Bendar Panglimo Koto kemudian
disuruhnya pergi ke daerah Ketahun untuk membuat dusun. “Duhai Anakanda pujaan
Bunda, jikalau Anakanda hendak merantau di negeri lain dan ingin menjadi raja
di sana, maka pergilah ke Ketahun. Kelak anakanda akan menjadi raja disana.
Sebab ibunda pernah tinggal berlama di sana”. Mendengar penuturan ibunya yang
penuh bijaksana itu, maka semakin terbukalah tekad Raja Bendar Panglimo Koto.
Pada
hari yang baik, maka berpamitlah Raja Bendar Panglimo Koto kepada kedua orang
tuanya. Tuanku Raja Alam pun tak kuasa menahan keinginan anaknya. Sebagai orang
tua yang amat sayang kepada anaknya, tentu saja Tuanku Raja Alam tidak ingin
anaknya mendapat kesulitan dijalan. Oleh sebab itulah, Tuanku Raja Alam
memerintahkan hulubalang dan anak buah secukupnya untuk turut menyertai
keberangkatan anaknya. Segala macam bekal keberangkatan juga telah dipersiapkan
oleh Putri Serindang Bulan.
Sebelum
berangkat, Putri Serindang Bulan berpesan kepada anaknya, agar kelak setelah
berhasil membuat dusun disana, segera memberikan kabar ke Indrapura. Putri
Serindang Bulan juga berjanji, jikalau kelak Raja Bendar Panglimo Koto telah
menjadi raja disana, maka ibunya akan segera datang berkunjung.
Setelah
segala macam bekal telah dipersiapkan, maka Raja Bendar Panglimo Koto segera
mohon do’a restu kedua orang tuanya untuk merantau ke negeri Ketahun. Dengan
disertai do’a restu oleh kedua orang tuanya, berangkatlah Raja Bendar Panglimo
Koto beserta anak buahnya menuju Muara Ketahun.
Perjalanan
yang amat panjang dan penuh rintangan, memerlukan semangat dan perjuangan yang
keras. Dengan semangat dan perjuangan yang keras itulah pada akhirnya rombongan
Raja Bendar Panglimo Koto sampai di Muara Ketahun. Sesampainya disana, kemudian
ia mendirikan sebuah dusun yang diberi nama Dusun Muara Dua ( sekarang
Kualalangi ). Dan dusun itu kemudian berkembang menjadi sebuah negeri yang amat
subur dan makmur. Disitulah Raja Bendar Panglimo Koto memerintah rakyatnya
dengan amat bijaksananya.
Sementara
itu, anak buahnya yang menyertai dari negeri Indrapura disuruh menempati dusun
disebelahnya, yaitu Dusun Raja. Dusun itulah yang dulu pernah disinggahi Putri
Serindang Bulan ketika hanyut terbawa oleh arus sungai yang amat deras.
Sesuai
dengan pesan ibundanya, maka Raja Bendar Panglimo Koto segera mengirim utusan
ke negeri Indrapura untuk mengabarkan tentang keberhasilannya membangun sebuah
dusun. Di damping itu, Raja Bendar Panglimo Koto juga membawakan bermacam
bingkisan untuk kedua orang tuanya.
Setelah
menempuh perjalanan yang amat jauh, sampailah utusan dari negeri Muara Dua itu
di negeri Indrapura. Maka segera menghadap Tuanku Raja Alam dan Putri Serindang
Bulan. Kemudian diceritakan kabar baik tentang Raja Bendar Panglimo Koto yang
kini telah menjadi raja di negeri Muara Dua. Mendengar kabar baik dari anaknya,
Tuanku Raja Alam dan Putri Serindang Bulan menjadi amat suka cita hatinya.
Dari
Indrapura Hingga Ketahun
Putri
Serindang Bulan pun teringat akan janjinya. Sebagai seroang ibu yang amat bijak
dan berpegang teguh pada janjinya, maka Putri Serindang Bulan ingin segera
datang ke negeri anaknya. Sebetulnya Tuanku Raja Alam berat hati jikalau
isterinya itu bepergian jauh. Akan tetapi, karena sudah berpegang janji, maka
sang raja tak dapat menahannya.
Pada
hari yang baik, maka berpamitlah Putri Serindang Bulan kepada sang raja. Atas
kebijaksanaan sang raja, Putri Serindang Bulan dikawal oleh segenap hulubalang
dan anak buah secukupnya. Segala bekal untuk perjalanan telah dipersiapkan.
Demikian juga dengan beberapa tabung bambu berisi emas sebagai hadiah dari raja
Indrapura. Maka segeralah rombongan Putri Serindang Bulan itu berangkat
meninggalkan negeri Indrapura menuju Muara Ketahun.
Konon
kisah selanjutnya, sampailah Putri Serindang Bulan di sebuah pantai. Terlihat
oleh Putri Serindang Bulan, ada sebuah pohon besar yang tumbuh dekat pantai itu
yang berbentuk seperti muka orang. Oleh karena pohon tersebut seperti muka
orang, Putri Serindang Bulan segera menyebut tempat itu dengan nama Muko-Muko.
Sebelum Putri Serindang Bulan melanjutkan perjalanannya, disuruhlah anak
buahnya untuk mencari sebuah sungai untuk membersihkan muka dan badannya.
Kemudian ditunjukkanlah sebuah sungai yang ternyata airnya amat sedikit.
Melihat air sungai yang amat sedikit itu, maka sungai itu di beri nama Sungai
Air Dikit.
Perjalanan
segera dilanjutkan. Setelah menempuh perjalanan yang amat berliku dan banyak
rintangan, sampailah rombongan Putri Serindang Bulan di wilayah Ketahun. Putri
Serindang Bulan amat terkejut ketika memasuki sebuah dusun. Ternyata
kedatangannya telah lama dinanti-nantikan oleh penduduk dusun itu. Oleh Putri
Serindang Bulan, dusun itu kemudian diberi nama Dusun Suka Menanti.
Setibanya di Muara Dua, Putri Serindang Bulan segera disambut dengan suka cita oleh Raja Bendar Panglimo Koto. Setelah dapat bertemu kembali, ibu dan anak itupun segera melepas kerinduannya. Konon ceritanya, Putri Serindang Bulan cukup lama tinggal di Muara Dua, karena ingin mengenang kembali kisahnya. Putri Serindang Bulan juga mengunjungi tempat-tempat yang pernah dilaluinya. Putri Serindang Bulan cukup lama tinggal di negeri anaknya, dan masih belum ingin kembali ke Indrapura. Tiba-tiba timbul perasaan rindu kepada kedua orang tuanya dan kakak-kakaknya. Oleh sebab itulah, maka segeralah Putri Serindang Bulan pergi mengunjungi kedua orang tuanya serta keenam kakaknya.
Setibanya di Muara Dua, Putri Serindang Bulan segera disambut dengan suka cita oleh Raja Bendar Panglimo Koto. Setelah dapat bertemu kembali, ibu dan anak itupun segera melepas kerinduannya. Konon ceritanya, Putri Serindang Bulan cukup lama tinggal di Muara Dua, karena ingin mengenang kembali kisahnya. Putri Serindang Bulan juga mengunjungi tempat-tempat yang pernah dilaluinya. Putri Serindang Bulan cukup lama tinggal di negeri anaknya, dan masih belum ingin kembali ke Indrapura. Tiba-tiba timbul perasaan rindu kepada kedua orang tuanya dan kakak-kakaknya. Oleh sebab itulah, maka segeralah Putri Serindang Bulan pergi mengunjungi kedua orang tuanya serta keenam kakaknya.
Terhadap
kakaknya yang keenam, yaitu Karang Nio, Putri Serindang Bulan banyak menyimpan
kenangan tersendiri. Oleh sebab itulah Putri Serindang Bulan tidak dapat
melupakan kebaikan hati kakak keenamnya.
Suatu
hari, Putri Serindang Bulan pernah mengirimkan berbagai macam hadiah kepada
anak-anaknya Karang Nio. Anak-anak Karang Nio pun menerimanya dengan suka cita.
Bahkan Putri Serindang Bulan sering datang berkunjung ke tempat tinggal Karang
Nio di Muara Aman.
Diceritakan kembali oleh :
Agus Setiyanto Z
Agus Setiyanto Z
Source:
http://www.permatabangsa.web.id/?p=732#more-732
PUTRI SERINDANG BULAN
Tersebutlah
dalam kisah, pada zaman dahulu sebelum ada nama Muara Ketahun, ada nama Sungai
Serut. Setelah ditinggali oleh Putri Serindang Bulan, selama setahun, maka
dinamailah wilayah itu Muara Setahun (sekarang Ketahun).
Konon
pada zaman dahulu ada seorang putri raja yang cantik jelita bernama Putri
Serindang Bulan. Oleh karena kecantikannya yang tiada taranya, maka banyak
orang yang jatuh hati kepadanya. Sudah banyak pemuda yang tertambat hatinya
ingin mempersunting Putri Serindang Bulan. Tetapi Putri Serindang Bulan sendiri
belum memikirkan untuk hidup berumah tangga. Walaupun pada saat itu, usia Putri
Serindang Bulan sudah cukup dewasa untuk hidup berkeluarga.
Sebagai
anak bungsu, Putri Serindang Bulan selalu menunjukkan rasa hormatnya kepada keenam
kakak kandungnya. Karena keenam kakak kandungnya belum juga menikah, maka Putri
Serindang Bulan tidak mau mendahului. Oleh sebab itulah Putri Serindang Bulan
belum bersedia menerima pinangan.
Tentu
saja sikap Putri Serindang Bulan itu mengecewakan banyak orang, termasuk pula
keenam kakaknya. Keenam kakak kandungnya merasa kecewa dan menanggung malu,
karena adiknya tidak mau segera menikah. Padahal keenam kakaknya berniat kawin
beleket, setelah Putri Serindang Bulan menikah dahulu. Oleh sebab itulah, pada
suatu hari dipanggilnya Putri Serindang Bulan oleh keenam kakaknya.
Di
sebuah Balai Panjang Istana, duduklah berkumpul tujuh kakak beradik mengadakan
rapat keluarga. Dalam rapat tersebut, keenam kakaknya mendesak agar Putri
Rindang Bulan segera menikah. Sebagai adik bungsu yang selalu hormat kepada
kakak-kakaknya, Putri Serindang Bulan pun tak kuasa menolaknya. Walaupun dalam
hati sebenarnya, Putri Serindang Bulan belumlah menemukan jodohnya.
Rupanya
sikap Putri Serindang Bulan yang sudah lunak itu segera tersiar keseluruh
penjuru wilayah kerajaan. Tentu saja banyak yang menyambutnya dengan sukacita.
Terlebih anak para raja yang sudah lama memendam rasa cintanya ingin
mempersunting Putri Serindang Bulan.
Tak
seberapa lama kemudian, datanglah utusan dari seorang Pangeran Muda yang tampan
menghadap Sang Baginda Raja Wawang. Kedatangannya tak lain bermaksud
mempersunting Putri Serindang Bulan yang terkenal eloknya. Raja Wawang dan
keenam kakak-kakaknya itupun segera menerima dengan penuh suka cita. Maka, segeralah
disusun rencana hari bimbangnya.
Ketika
dipertemukan kedua calon mempelai, tiba-tiba paras Putri Serindang Bulan yang
semula cantik berubah amat buruk. Wajah dan kulit Putri Serindang Bulan telah
terkena penyakit kusta yang menjijikkan. Dilihatnya wajah Putri Serindang Bulan
yang amat menjijikkan itu, maka bergegaslah Pangeran Muda itu meninggalkan
Balai bimbang. Utusan Pangeran Muda itupun segera membatalkan acara pernikahan,
dan pulang dengan hati kecewa.
Apa
hendak dikata, jikalau batang sudah berarang, itulah kenyataannya. Keluarga
Raja Wawang dan keenam kakaknya pun tak dapat menyalahkan pembatalan utusan
Pangeran Muda itu. kecuali hanya menanggung malu dan rasa sedih akan kejadian
yang sungguh diluar jangkauan akal manusia.
Akan
tetapi, tak lama kemudian setelah para utusan itu pulang, tiba-tiba penyakit
kusta Putri Serindang Bulan itu hilang seketika. Wajah dan kulit yang buruk dan
menjijikkan itu kini telah menjadi bersih dan cantik kembali. Raja Wawang dan
keenam kakaknya menyambutnya dengan gembira. Dan kabar telah sembuhnya Putri
Serindang Bulan dari penyalit kusta itu pun segera menyebar ke segala penjuru
kerajaan.
Pada
hari berikutnya, datanglah seorang pemuda gagah dan tampan bersama rombongannya
masuk ke istana. Pemuda dan rombongannya itu segera menyatakan maksudnya untuk
mempersunting Putri Serindang Bulan. Perundingan segera dilakukan, acara
bimbang pun telah diserapatkan.
Suatu
hari ketika kedua mempelai dipertemukan, kejadian aneh terulang kembali.
Tiba-tiba wajat dan kulit Putri Serindang Bulan berubah buruk dan menjijikkan.
Semua yang melihat sangat terkejut, terlebih calon mempelai laki-laki. Setelah
dilihatnya seluruh wajah dan kulit Putri Serindang Bulan berubah buruk dan
menjijikkan, maka berlarilah calon mempelai laki-laki itu meninggalkan Balai
Panjang Istana. Demikian juga dengan rombongannya. Maka batallah rencana
perkawinan Putri Serindang Bulan untuk kedua kalinya. Keluarga Raja Wawang
beserta keenam kakaknya pun menanggung rasa malu yang amat besar.
Peristiwa
itu sungguh luar biasa anehnya. Sebab begitu dibatalkan, tiba-tiba penyakit
kusta Putri Serindang Bulan hilang seketika. Wajah dan kulitnya yang amat buruk
dan menjijikkan itu telah kembali seperti semula. Bahkan wajah dan kulitnya pun
tak berbekas sedikitpun. Peristiwa itu sungguh mentakjubkan banyak orang.
Peristiwa
itu terus terjadi tanpa disadarinya. Jikalau dihitung, sudah ada sembilan orang
yang membatalkan pernikahannya dengan Putri Serindang Bulan. Raja Wawang dan
keenam kakaknya pun kian lama kian murka dibuatnya. Keenam kakaknya pun mulai
menaruh curiga buruk terhadap adik bungsunya, Putri Serindang Bulan.
Dibuang
Setahun
Akibat
pembatalan pernikahan yang terus menerus itu, hubungan antara Putri Serindang
Bulan dengan keenam kakaknya itu semakin jauh. Putri Serindang Bulan mulai
dimusuhi oleh kakak-kakaknya. Bahkan ada yang berniat untuk menyingkirkannya,
karena dianggap menjadi sumber petaka bagi keluarga kerajaan.
Pada
suatu hari berkumpullah keenam kakaknya di sebuah ruangan istana yang
dirahasiakan. Pertemuan keenam kakak-kakaknya itu membahas rencana
menyingkirkan adik bungsunya. Salah satu kakaknya mengusulkan agar adik
bungsunya di bawa ke hutan lalu dibunuhnya. Kemudian diusulkan pula, bahwa yang
membawa si bungsu itu sebaiknya Karang Nio. Sebab, Karang Nio adalah kakak si
bungsu yang kelima, yang dinilai lebih dekat dengan adik bungsunya.
Semula
Karang Nio keberatan dengan usulan kakak-kakaknya yang merencanakan akan
membunuh si bungsu. Tetapi karena yang lainnya menyetujui, maka Karang Nio tak
dapat berbuat banyak kecuali melaksanakannya. Kemudian dibuat kesepakatan
sebagai tanda bukti, bahwa Karang Nio harus membawa setabung darah si bungsu,
dan bukti penigasan (irisan) bagian telinganya.
Setelah
segala sesuatunya telah dipersiapkan, maka pergilah Karang Nio menemui adiknya
si bungsu Putri Serindang Bulan. Kemudian diajaknya Putri Serindang Bulan pergi
jalan-jalan. Putri Serindang Bulan mulanya tak menaruh curiga kepada kakaknya,
tetapi setelah perjalanannya semakin jauh masuk ke hutan, perasan Putri Serindang
Bulan semakin takut tak karuan.
Setibanya
di tengah hutan, Karang Nio segera mengajak Putri Serindang Bulan untuk
beristirahat sejenak. Disaat beristirahat itulah, Putri Serindang Bulan
bertanya kepada kakaknya. “Tiadalah pernah sekali-kali kakak membawaku sampai
sejauh ini. Adakah gerangan hingga kakak membawaku ketengah hutan yang amat
sunyi ini?” Mendengar pertanyaan yang amat menyentuh hati itu, tiadalah Karang
Nio mampu menjawab barang sepatah katapun. Bibirnya seperti terkunci rapat,
hingga tak keluar suara sedikitpun dari rongga mulutnya. Dalam lubuk hati yang
terdalam, Karang Nio sungguh tiada sanggup untuk membunuh adik bungsunya.
Setelah
dipikirkannya masak-masak, lalu berceritalah Karang Nio kepada adik bungsunya.
Dikatakannya terus terang, bahwa ia disuruh oleh kakak-kakaknya untuk membunuh
Putri Serindang Bulan. Kakak-kakaknya merasa menanggung malu akibat perbuatan
si bungsu. Untuk menghapus rasa malu, maka diputuskan untuk membunuh Putri
Serindang Bulan di tengah hutan. Dan kelak jikalau kakak kembali harus membawa
tanda buktinya, irisan sebagian dari telinganya.
Mendengar
pengakuan tulus dari kakaknya itu, Putri Serindang Bulan segera menyadari akan
nasibnya. Maka berkatalah Putri Serindang Bulan dengan bijaknya: “Jikalau
demikian adanya, lakukanlah segera kanda. Adik serahkan sepenuhnya nyawa ini
kepada kakanda.” Maka Karang Nio pun segera membalasnya, “Sungguh hati kecil
kakanda tiadalah tega untuk melakukannya. Sebab, kakanda amat kasih dan sayang
semata kepada adinda.”
Setelah
berpikir sejenak, Karang Nio lalu memotong seekor anjing. Darah anjing itu
kemudian ditempatkan pada sebuah tabung yang dibawanya. Maka berkatalah kepada
adiknya; “inilah bukti yang akan aku tunjukkan kepada mereka. Oleh karena harus
ada tanda bukti lain, maka izinkanlah kakanda melukai barang sedikit daun
telinga sebelah belakang adinda. Kelak jikalau kita dipertemukan kembali,
kakanda dapat menemukan tanda itu pada diri adinda. Sebaliknya, kakanda juga
akan melukai telunjuk jari kakanda sendiri, sebagai tanda pengingat pada
adinda.”
Kemudian
Karang Nio mengajak Putri Serindang Bulan pergi menuju ketepian sungai keramat
Ulau Deus. Karang Nio segera membuat rakit untuk melepas Putri Serindang Bulan.
Setelah rakit jadi, lalu dilepaslah Putri Serindang Bulan hingga terbawa arus
sungai.
Konon
ceritanya setiap daerah yang dilewati Putri Serindang Bulan itu menjadi sebuah
dusun. Maka jadilah sebuah dusun yang bernama Dusun Raja. Tak terasa setahun
sudah Putri Serindang Bulan menyisiri sungai dengan rakitnya. Setelah sampai di
sebuah muara, maka diberilah nama daerah dengan itu nama Muara Setahun (
sekarang menjadi Ketaun).
Setibanya
di muara Setahun, Putri Serindang Bulan segera menaikkan rakitnya ketepian
sungai. Selanjutnya Putri Serindang Bulan menaiki tebing dan membuat tempat
tinggal disana. Tempat tinggal Putri Serindang Bulan diatas tebing itu,
kemudian diberi nama Tepat Masat. Di tempat inilah Putri Serindang Bulan
tinggal dalam waktu yang cukup lama.
Bertemu
Raja Indrapura
Pada
suatu ketika, ada sebuah perahu yang melewati muara sungai Setahun. Pemilik
perahu itu adalah seorang raja dari Indrapura yang bernama Tuanku Raja Alam.
Ketika perahu melewati muara, Tuanku Alam Raja melihat cahaya kemilau yang
memancar di atas tebing. Oleh karena rasa penasarannya, maka segeralah Tuanku
Raja Alam mendekati dan menaiki tebing itu.
Sesampainya
di atas tebing, cahaya yang kemilau itu tiba-tiba hilang, dan yang ada hanyalah
sebuah bangunan rumah. Maka segeralah Tuanku Raja Alam mendekati bangunan rumah
itu, lalu mengetuk pintunya. Tak lama kemudian, muncullah Putri Serindang Bulan
dari dalam rumah itu. Tuanku Raja Alam sangat terkejut melihat Putri Serindang
Bulan yang memiliki paras nan elok dan jelita.
Keduanya
pun saling berkenalan. Kemudian Putri Serindang Bulan menceritakan asal mula
kejadiannya hingga terdampar di muara Sungai Ketahun. Mendengar penuturan kisah
Putri Serindang Bulan yang amat lembut itu, Tuanku Raja Alam menjadi terharu
dan kian terpikat olehnya. Tuanku Raja Alam juga menceritakan tentang
kegemarannya pergi berburu kehutan-hutan, hingga akhirnya bertemu dengan Putri
Serindang Bulan.
Setelah
keduanya saling bercerita, Tuanku Raja Alam kemudian mengutarakan niatnya untuk
membawa Putri Serindang Bulan ke istana Indrapura. Putri Serindang Bulan pun
menyambutnya dengan penuh sukacita. Maka segeralah mereka berangkat menuju
istana kerajaan Indrapura.
Calon
Permaisuri Raja
Tak
seberapa lama kemudian, tibalah rombongan Tuanku Raja Alam bersama Putri
Serindang Bulan di istana kerajaan Indrapura. Maka segeralah Tuanku Raja Alam
mengumpulkan para hulubalang, serta memanggil empat penghulu kerajaan untuk
mengadakan kerapatan.
Di
hadapan para pembesar dan empat penghulu kerajaan Indrapura, Putri Serindang
Bulan segera menceritakan kembali kisah sedih hidupnya hingga akhirnya bertemu
dengan Tuanku Raja Alam. Mendengar kisah hidup Putri Serindang Bulan itu, para
pembesar kerajaan beserta empat penghulu menjadi terharu karenanya.
Tuanku
Raja Alam kemudian menyatakan niatnya untuk mempersunting Putri Serindang
Bulan. Oleh karena takut akan terjadi peristiwa yang sama, maka empat penghulu
itu minta waktu tiga hari. Setelahj genap waktu tiga hari, maka menghadaplah
keempat penghulu itu. mereka menyetujui perkawinanTuanku Raja Alam dengan Putri
Serindang Bulan. Dan menjamin tidak akan terjadi apa-apa, karena Tuanku Raja
Alam sudah mempunyai enam orang istri. Tetapi untuk terlaksananya sarana adat
perkawinan itu, wali dari calon mempelai harus didatangkan. Itulah sa;ah satu
syarat yang harus dilaksanakan agar perkawinan itu sah adanya. Setelah mendapat
keterangan dari keempat penghulu itu, Tuanku Raja Alam pun dapat memakluminya.
Bimbang
Besar
Tak
seberapa lama lagi, kerajaan Indrapura akan menyelenggarakan acara pesta
pernikahan antara Tuanku Raja Alam dengan Putri Serindang Bulan secara
besar-besaran. Menurut adat tradisi yang berlaku di kerajaan Indrapura, pesta
pernikahan secara besar-besaran itu disebut bimbang besar atau bimbang gedang.
Sesuai
dengan syarat adat yang berlaku di negeri itu, calon wali mempelai wanita harus
dihadirkan sebagai wali saksi. Oleh sebab itulah, Putri Serindang Bulan segera
mengirim kabar kepada ayahanda dan keenam kakaknya.
Raja
Wawang dan keenam kakaknya sangat terkejut mendapat kabar bahwa si bungsu
Serindang Bulan masih hidup. Bahkan keluarga kerajaan merasa senang mendapat
kabar Putri Serindang Bulan akan dipersunting oleh Tuanku Raja Alam dari
kerajaan Indrapura. Ingin rasanya Raja Wawang menghadiri acara bimbang besar di
kerajaan Indrapura.
Akan
tetapi, apa hendak dikata. Maksud hati ingin memeluk gunung, apa daya tangan
tak sampai. Oleh karena usianya yang sudah lanjut, maka Raja Wawang tak dapat
menghadiri acara bimbang besar putrinya. Maka Raja Wawang segera mengutus
keenam anaknya (kakak-kakak Putri Serindang Bulan) untuk mewakili pernikahan si
bungsu.
Pada
hari yang telah disepakatkan, berangkatlah keenam kakak Putri Serindang Bulan
ke negeri Indrapura. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya
tibalah mereka di negeri Indrapura. Sesampainya di istana kerajaan Indrapura,
mereka segera menghadap Tuanku Raja Alam. Setelah memperkenalkan diri, mereka
lalu menyampaikan maksud kedatangannya. Mereka bermaksud meminta uang beleket,
yaitu uang tebusan sebagai pengganti si bungsu yang akan diambil oleh Tuanku
Raja Alam.
Mendengar
permintaan keenam kakak Putri Serindang Bulan itu, Tuanku Raja Alam akan
mengabulkan permintaan kakak beradik itu, dengan syarat mereka harus dapat
mengenali Putri Serindang Bulan.
Apabila mereka masih dapat mengenali Putri Serindang Bulan, Tuanku Raja Alam akan memenuhi permintaannya, dan akan diberi berbagai macam hadiah.
Apabila mereka masih dapat mengenali Putri Serindang Bulan, Tuanku Raja Alam akan memenuhi permintaannya, dan akan diberi berbagai macam hadiah.
Sebaliknya,
jikalau tak satu pun dari mereka yang bisa menebak, maka uang beleket itu tak
akan diberikan. Bahkan Tuanku Raja Alam mengancam akan menghukum mereka. Karena
sudah kepalang basah, maka mereka pun menyatakan kesediaannya.
Tak
seberapa lama. Tuanku Raja Alam segera memanggil tujuh wanita yang wajahnya
mirip dengan Putri Serindang Bulan untuk dihadapkan kepada mereka.
Keenam
kakak-beradik itupun segera mengamati satu persatu ketujuh wanita yang amat
jelita parasnya. Kakak yang pertama menyerah, karena tidak dapat mengenali lagi
wajah si bungsu Putri Serindang Bulan. Selanjutnya, disusul oleh kakak
keduanya. Kakak keduanya juga tidak mampu mengenali lagi wajah si bungsu
adiknya.
Kini
giliran kakak yang ketiga. Ternyata kakak yang ketiga pun tak mengenal lagi
mana adiknya yang sebenarnya. Demikian juga kakak keempat dan kelima. Keduanya
sama-sama tidak mampu menebaknya. Suasanapun menjadi amat menegangkan,
perjanjian sudah disepakati bersama. Jikalau tak satupun ada yang bisa menebak
siapa adiknya, maka tamatlah riwayat mereka, sebab mereka akan dibunuhnya.
Kini
mereka bergantung kepada Karang Nio. Ketika giliran jatuh pada Karang Nio,
yaitu kakaknya yang keenam, Karang Nio tiba-tiba teringat pada peristiwa masa
silam. Bahwa ia pernah memberikan sebuah tanda pada diri adiknya, yaitu dengan
melukai daun telinga adiknya dibagian belakang. Maka, segeralah Karang Nio
memeriksa satu-persatu daun telinga ketujuh wanita itu. ketika Karang Nio
memeriksa daun telinga salah satu dari ketujuh wanita itu, ternyata diketemukan
sebuah tanda. Setelah Karang Nio dapat menemukan tanda itu, maka Karang Nio
semakin yakin bahwa wanita itu tidak lain adalah si bungsu Putri Serindang
Bulan. Karang Nio pun segera menghadap Tuanku Raja Alam. Lalu berkata : “Tuanku
Raja Alam, inilah si bungsu hamba Putri Serindang Bulan. Sebab hambalah yang
memberikan tanda itu, sebelum hamba menghanyutkannya ke sungai.” Kemudian
Karang Nio kembali lagi mendekati Putri Serindang Bulan, seraya berkata: ”Oi
Dindaku sayang engkau seorang, kini jodoh sudah ada di depan. Tentunya, Dinda
pun telah mengenali kami.” Karang Nio pun segera memperlihatkan tanda pengenal,
yaitu luka yang ada pada telunjuk jarinya.
Kedua
kakak beradik itupun segera berangkul melepas rasa rindu. Melihat kedua kakak
beradik yang telah bertemu, maka suasana dalam istana karajaan Indrapura
seketika menjadi penuh haru. Tuanku Raja Alam pun dapat memakluminya. Maka,
legalah hati kakak beradik itu, karena tidak jadi dihukum oleh sang raja.
Tuanku Raja Alam pun tiada jadi menghukumnya. Sebaliknya, Tuanku Raja Alam
segera membayar uang jujur sebesar enam ruas bambu emas kepada masing-masing
kakak beradik Putri Serindang Bulan itu.
Pesta
perkawinan antara Tuanku Raja Alam dan Putri Serindang Bulan pun segera
diadakan. Bimbang besar telah digelar selama tujuh hari tujuh malam lamanya.
Seluruh rakyat negeri itu pun turut bersuka cita menyambut acara bimbang besar.
Segala perabot bimbang. Musik gong, kulintang, redap, dan gendang pun dibunyikan
bertalu-talu. Tua muda, bujang dan gadis pun turut mengisi berbagai macam
tarian.
Muara
Urai
Usai
pelaksanaan bimbang besar, keenam kakak beradik itu segera berpamitan kepada
Tuanku Raja Alam dan Putri Serindang Bulan. Mereka pulang dengan masing-masing
membawa setabung bambu berisi emas. Tetapi sayang tabung bambu berisi emas itu
jatuh di dasar laut, ketika biduk yang ditumpanginya pecah di tengah laut.
Kecuali tabung bambu emas milik Karang Nio. Kemudian mereka mendarat di
Serangai, dan terus berjalan menyisiri sebuah muara. Disanalah mereka saling
bertikai dan berebut tabung emas milik Karang Nio yang selamat. Ketika mereka
saling berebut, tabung emas milik adiknya itupun jatuh terurai. Tempat jatuhnya
emas yang terurai itu, kemudian dinamakan Muara Urai. Melihat emas telah jatuh
terurai, maka segeralah mereka berebut mendapatkannya. Akhirnya mereka pun
mendapat bagian emas dari adiknya.
Setelah
mendapatkan emas secukupnya, kemudian mereka saling berpisah. Adiknya yang
keenam, yaitu Karang Nio segera menuju ke sebuah tempat yang dianggapnya aman
dari segala gangguan. Akhirnya sampailah Karang Nio tiba di sebuah muara dan
menetap disana. Tempat menetap Karang Nio itu kemudian diberi nama Muara Aman.
Melahirkan
Anak Calon Raja
Sementara
itu kehidupan Putri Serindang Bulan, tampak selalu bahagia. Meskipun raja sudah
memiliki enam orang isteri, tetapi perhatian dan kasih sayangnya lebih banyak
dicurahkan kepada Putri Serindang Bulan. Karena Putri Serindang Bulan adalah
permaisurinya. Sedangkan yang lainnya hanyalah isteri selirnya.
Waktu
terus berlalu dengan cepatnya. Jalinan kasih sayang Tuanku Raja Alam dan Putri
Serindang Bulan kian menunjukkan buahnya. Tak seberapa lama, maka mengandunglah
Putri Serindang Bulan. Tuanku Raja Alam pun menerimanya dengan amat suka
citanya. Setelah menuju kesembilan bulan lewat sepuluh hari, Putri Serindang
Bulan pun akhirnya melahirkan seorang anak laki-laki. Anak laki-laki itu
kemudian diberi nama Raja Bendar Panglimo Koto.
Sebagai
ibu yang amat kasih dan sayang kepada anaknya, maka Putri Serindang Bulan tak
henti-hentinya membuai dan menimang-nimang si kecil Raja Bendar Panglimo Koto.
Walaupun sudah ada segenap inang dan dayang-dayang kerajaan yang siap mengasuh
dan melayani si kecil, tetapi Putri Serindang Bulan lebih senang merawat dan
mendidiknya sendiri. Oleh sebab itulah Putri Serindang Bulan tidak mau
menyerahkan anaknya kepada inang dan dayang-dayangnya.
Rupanya
Putri Serindang Bulan ingin sekali agar si kecil Raja Bendar Panglimo Koto
kelak hingga dewasa selalu menghormati dan menghargai kedua orang tuanya.
Dibawah asuhan kasih sayang ibundanya, Raja Bendar Panglimo Koto semakin tumbuh
dan berkembang menjadi seoarng anak remaja dengan kepribadian yang baik.
Menjadi
Raja di Ketahun
Setelah
beranjak dewasa, Tuanku Raja Alam berkehendak agar Raja Panglimo Koto dapat
menggantikan kedudukannya menjadi raja di Indrapura. Akan tetapi, sang anak
yang telah mendapatkan pendidikan dan ajaran ibunya, tidak ingin mengharap
warisan sang ayah. Raja Bendar Panglimo Koto, lebih senang jikalau dapat dengan
bebas menentukan nasib jalan hidupnya sendiri.
Atas
kebijaksanaan Putri Serindang Bulan, Raja Bendar Panglimo Koto kemudian
disuruhnya pergi ke daerah Ketahun untuk membuat dusun. “Duhai Anakanda pujaan
Bunda, jikalau Anakanda hendak merantau di negeri lain dan ingin menjadi raja
di sana, maka pergilah ke Ketahun. Kelak anakanda akan menjadi raja disana.
Sebab ibunda pernah tinggal berlama di sana”. Mendengar penuturan ibunya yang
penuh bijaksana itu, maka semakin terbukalah tekad Raja Bendar Panglimo Koto.
Pada
hari yang baik, maka berpamitlah Raja Bendar Panglimo Koto kepada kedua orang
tuanya. Tuanku Raja Alam pun tak kuasa menahan keinginan anaknya. Sebagai orang
tua yang amat sayang kepada anaknya, tentu saja Tuanku Raja Alam tidak ingin
anaknya mendapat kesulitan dijalan. Oleh sebab itulah, Tuanku Raja Alam
memerintahkan hulubalang dan anak buah secukupnya untuk turut menyertai
keberangkatan anaknya. Segala macam bekal keberangkatan juga telah dipersiapkan
oleh Putri Serindang Bulan.
Sebelum
berangkat, Putri Serindang Bulan berpesan kepada anaknya, agar kelak setelah
berhasil membuat dusun disana, segera memberikan kabar ke Indrapura. Putri
Serindang Bulan juga berjanji, jikalau kelak Raja Bendar Panglimo Koto telah
menjadi raja disana, maka ibunya akan segera datang berkunjung.
Setelah
segala macam bekal telah dipersiapkan, maka Raja Bendar Panglimo Koto segera
mohon do’a restu kedua orang tuanya untuk merantau ke negeri Ketahun. Dengan
disertai do’a restu oleh kedua orang tuanya, berangkatlah Raja Bendar Panglimo
Koto beserta anak buahnya menuju Muara Ketahun.
Perjalanan
yang amat panjang dan penuh rintangan, memerlukan semangat dan perjuangan yang
keras. Dengan semangat dan perjuangan yang keras itulah pada akhirnya rombongan
Raja Bendar Panglimo Koto sampai di Muara Ketahun. Sesampainya disana, kemudian
ia mendirikan sebuah dusun yang diberi nama Dusun Muara Dua ( sekarang
Kualalangi ). Dan dusun itu kemudian berkembang menjadi sebuah negeri yang amat
subur dan makmur. Disitulah Raja Bendar Panglimo Koto memerintah rakyatnya
dengan amat bijaksananya.
Sementara
itu, anak buahnya yang menyertai dari negeri Indrapura disuruh menempati dusun
disebelahnya, yaitu Dusun Raja. Dusun itulah yang dulu pernah disinggahi Putri
Serindang Bulan ketika hanyut terbawa oleh arus sungai yang amat deras.
Sesuai
dengan pesan ibundanya, maka Raja Bendar Panglimo Koto segera mengirim utusan
ke negeri Indrapura untuk mengabarkan tentang keberhasilannya membangun sebuah
dusun. Di damping itu, Raja Bendar Panglimo Koto juga membawakan bermacam
bingkisan untuk kedua orang tuanya.
Setelah
menempuh perjalanan yang amat jauh, sampailah utusan dari negeri Muara Dua itu
di negeri Indrapura. Maka segera menghadap Tuanku Raja Alam dan Putri Serindang
Bulan. Kemudian diceritakan kabar baik tentang Raja Bendar Panglimo Koto yang
kini telah menjadi raja di negeri Muara Dua. Mendengar kabar baik dari anaknya,
Tuanku Raja Alam dan Putri Serindang Bulan menjadi amat suka cita hatinya.
Dari
Indrapura Hingga Ketahun
Putri
Serindang Bulan pun teringat akan janjinya. Sebagai seroang ibu yang amat bijak
dan berpegang teguh pada janjinya, maka Putri Serindang Bulan ingin segera
datang ke negeri anaknya. Sebetulnya Tuanku Raja Alam berat hati jikalau
isterinya itu bepergian jauh. Akan tetapi, karena sudah berpegang janji, maka
sang raja tak dapat menahannya.
Pada
hari yang baik, maka berpamitlah Putri Serindang Bulan kepada sang raja. Atas
kebijaksanaan sang raja, Putri Serindang Bulan dikawal oleh segenap hulubalang
dan anak buah secukupnya. Segala bekal untuk perjalanan telah dipersiapkan.
Demikian juga dengan beberapa tabung bambu berisi emas sebagai hadiah dari raja
Indrapura. Maka segeralah rombongan Putri Serindang Bulan itu berangkat
meninggalkan negeri Indrapura menuju Muara Ketahun.
Konon
kisah selanjutnya, sampailah Putri Serindang Bulan di sebuah pantai. Terlihat
oleh Putri Serindang Bulan, ada sebuah pohon besar yang tumbuh dekat pantai itu
yang berbentuk seperti muka orang. Oleh karena pohon tersebut seperti muka
orang, Putri Serindang Bulan segera menyebut tempat itu dengan nama Muko-Muko.
Sebelum Putri Serindang Bulan melanjutkan perjalanannya, disuruhlah anak
buahnya untuk mencari sebuah sungai untuk membersihkan muka dan badannya.
Kemudian ditunjukkanlah sebuah sungai yang ternyata airnya amat sedikit.
Melihat air sungai yang amat sedikit itu, maka sungai itu di beri nama Sungai
Air Dikit.
Perjalanan
segera dilanjutkan. Setelah menempuh perjalanan yang amat berliku dan banyak
rintangan, sampailah rombongan Putri Serindang Bulan di wilayah Ketahun. Putri
Serindang Bulan amat terkejut ketika memasuki sebuah dusun. Ternyata
kedatangannya telah lama dinanti-nantikan oleh penduduk dusun itu. Oleh Putri
Serindang Bulan, dusun itu kemudian diberi nama Dusun Suka Menanti.
Setibanya di Muara Dua, Putri Serindang Bulan segera disambut dengan suka cita oleh Raja Bendar Panglimo Koto. Setelah dapat bertemu kembali, ibu dan anak itupun segera melepas kerinduannya. Konon ceritanya, Putri Serindang Bulan cukup lama tinggal di Muara Dua, karena ingin mengenang kembali kisahnya. Putri Serindang Bulan juga mengunjungi tempat-tempat yang pernah dilaluinya. Putri Serindang Bulan cukup lama tinggal di negeri anaknya, dan masih belum ingin kembali ke Indrapura. Tiba-tiba timbul perasaan rindu kepada kedua orang tuanya dan kakak-kakaknya. Oleh sebab itulah, maka segeralah Putri Serindang Bulan pergi mengunjungi kedua orang tuanya serta keenam kakaknya.
Setibanya di Muara Dua, Putri Serindang Bulan segera disambut dengan suka cita oleh Raja Bendar Panglimo Koto. Setelah dapat bertemu kembali, ibu dan anak itupun segera melepas kerinduannya. Konon ceritanya, Putri Serindang Bulan cukup lama tinggal di Muara Dua, karena ingin mengenang kembali kisahnya. Putri Serindang Bulan juga mengunjungi tempat-tempat yang pernah dilaluinya. Putri Serindang Bulan cukup lama tinggal di negeri anaknya, dan masih belum ingin kembali ke Indrapura. Tiba-tiba timbul perasaan rindu kepada kedua orang tuanya dan kakak-kakaknya. Oleh sebab itulah, maka segeralah Putri Serindang Bulan pergi mengunjungi kedua orang tuanya serta keenam kakaknya.
Terhadap
kakaknya yang keenam, yaitu Karang Nio, Putri Serindang Bulan banyak menyimpan
kenangan tersendiri. Oleh sebab itulah Putri Serindang Bulan tidak dapat
melupakan kebaikan hati kakak keenamnya.
Suatu
hari, Putri Serindang Bulan pernah mengirimkan berbagai macam hadiah kepada
anak-anaknya Karang Nio. Anak-anak Karang Nio pun menerimanya dengan suka cita.
Bahkan Putri Serindang Bulan sering datang berkunjung ke tempat tinggal Karang
Nio di Muara Aman.
Diceritakan kembali oleh :
Agus Setiyanto Z
Agus Setiyanto Z
Source:
http://www.permatabangsa.web.id/?p=732#more-732


0 komentar:
Posting Komentar